AGENDA KEGIATAN

  AGUSTUS 2018  
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
- Klik pada tanggal yang terdapat event

STATISTIK PENGUNJUNG

Hari ini 85
Minggu ini 311
Bulan ini 2963
Total Pengunjung 30950
Pengunjung Online 4

BANTUAN ONLINE

MUJIYANTO, M.Pd.
SRI MULYANI, A.Md.

OFFICIAL TWITTER

Palembang - Sabtu, 28 April 2018

Guru Kencing Berdiri Murid Kecipratan - Dra. LENSA

Dibaca : 1 Pengunjung

Menjadi guru itu tidak mudah, lebih mudah menjadi sopir angkot. Menjadi sopir angkot orientasinya jangan sampai nombok setoran ke juragan. Menjadi sopir angkot sering berjibaku dengan kemacetan, panas terik, banjir, sopir angkot sering tak perduli pada pengguna jalan lain, tidak perduli angkotnya membuat kacau lalu lintas. Berbeda menjadi guru, menjadi guru itu tidak mudah karena tidak sembarang orang mampu, tidak sembarang orang terpanggil menjadi guru. Menjadi guru berkaitan dengan filosofi hidup, salah sedikit membuat sisi personalnya menjadi cacat. Apalagi profesi guru memang tiada duanya di dunia ini, karena di dunia ini hanya ada dua profesi pekerjaan, yang pertama adalah guru dan yang kedua adalah “dan lain lain”. Berbeda menjadi sopir angkot yang masuk kategori profesi “dan lain lain” itu, salah sedikit paling banter kena tilang pak polisi. Setelah itu ujung ujungnya damai itu indah.

Lalu apa hubungannya judul di atas ? apalagi judul di atas sudah keluar dari pakem, guru kencing berdiri, murid kencing berlari, namun peribahasa tersebut saya plesetkan menjadi “guru kencing berdiri, murid kecipratan”. Peribahasa yang umum tersebut dari “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” diartikan “menjadi tokoh panutan di masyarakat/pejabat hendaknya jangan sampai memberi contoh yang buruk”. Tidak sebatas hanya untuk guru, karena profesi guru itu berkaitan dengan “panutan” “teladan”. Jadi so, baik pemimpin, ketua, sesepuh atau panglima hendaklah kalau kencing eeh, maaf harus bisa memberikan teladan yang baik.

Mari kita runut secara harfiah namanya buang air kecil yang bahasa premannya kencing. Dalam budaya jawa dan sopan santun, baik lelaki maupun perempuan tidak pantas dan “ora ilok” membuang air kecil dengan cara berdiri. Hajatan kecil tersebut tetap dibutuhkan semacam “upacara” agar proses penembakan air seni menjadi lancar. Namun sayangnya sudah menjadi hal jamak kalau namanya lelaki, membuang air kecil dengan cara berdiri mengangkang tanpa sopan santun, bahkan berani di pinggir jalan tanpa permisi. Tidak perduli kalau suatu tempat pasti ada “penunggunya”. Padahal secara etika, membuang air seni dengan cara berdiri adalah tidak sopan, saru !. Apalagi semua toilet laki laki menyediakan tempat narsis semacam itu, jangan salahkan kami yang kencing, salahkan yang punya toilet kenapa dibuat seperti itu. Tapi bagi mereka rasanya bangga dan lega bisa membuang hajatan rutin apalagi kalau sudah kebelet.

Kencing dengan cara berdiri memang tidak pantas dan tidak sopan, lalu dikaitkan dengan profesi guru, kenapa ya tidak profesi lain, misal sopir angkot, atau tukang ojek sehingga menjadi begini “Sopir angkot kencing berdiri, penumpang kencing berlari”. Masalahnya sopir angkot tidak bisa menjadi contoh, sopir angkot itu tidak pernah peduli rambu rambu lalu lintas, berhenti di tengah jalan dan mengira bahwa jalan itu punya neneknya. Bagi sopir angkot berhenti mendadak sebagai hak dan kemerdekaan, anak istri butuh makan, cuk ! peduli amat. Makanya profesi sopir angkot tidak pantas mewakili dunia percontohan dan keteladanan.

Inilah istimewanya guru, menjadi public figure, menjadi contoh, guru jarang sekali protes, jarang demo, memang ada juga, namun jumlahnya tidak banyak dibanding demo buruh atau pilkada. Pembuat peribahasa itu seharusnya perlu dituntut pertanggungjawaban, mengapa profesi guru sampai sesadis sadisnya dikaitkan dengan urusan “upacara” tidak senonoh itu. Mungkin juga karena profesi guru yang membutuhkan kesabaran ekstra itu, sehingga ada orang sampai sangat luar biasa tega membuat peribahasa aneh aneh dengan anggapan para guru tidak tersinggung, padahal itu keliru, guru juga manusia, guru juga punya hak marah dan tersinggung namun ada batas batas yang tidak akan dilangkahi oleh seorang guru. Guru tidak pernah menyandang predikat maha sabar, karena di dunia ini hanya dua orang yang berhak menyandang gelar “maha”, yaitu mahasiswa/i dan maha patih Gajah Mada. Jadi jangan menganggap bahwa guru itu semacam dewa, atau manusia tiada duanya, sehingga bisa sabar seperti malaikat.

Karena sudah terlanjur peribahasa tersebut, maka murid menjadi kecipratan akan “upacara” tersebut. Di mana ada guru, pasti ada murid. Mengaku menjadi guru tanpa murid namanya tong kosong berbunyi glondhang glondhang. Di mana murid berulah, gurunya yang disalahkan. Sungguh repot nian jadi guru, nggak mudah, nggak gampang, lebih gampang jadi tukang copet.

Agar murid kencingnya tidak berlari ada baiknya peribahasa tersebut kita belokan, guru kencing berdiri murid kecipratan, artinya kurang lebih “menjadi tokoh panutan di masyarakat/pejabat jika berbuat buruk cukup hanya lingkup tertentu, jangan meluber kemana mana”. Namanya manusia, sekalipun jadi teladan tetap saja ada salahnya, hanya tingkat kesalahannya jangan diumbar umbar seperti murid kencing berlari, tidak patut, cukup kecipratan di tempat saja. Mungkin tidak pas, namun setidaknya bisa melokalisir sebuah keburukan. Entah kalau anda punya pikiran lain, silakan saja, namun bagi saya pribadi, peribahasa yang enak di dengar memang “guru kencing berdiri, murid kecipratan” dibanding “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Jika hal yang buruk yang dilakukan seorang guru jangan dicontoh dan jangan di bawa ke mana mana apalagi sambil kencing dan berlari, jadikan hal tersebut semacam “koreksi” menciprati muka kita, karena guru juga manusia, tidak sempurna.


Dibaca : 1 Pengunjung

Artikel Lainnya

Apycom jQuery Menus