AGENDA KEGIATAN

  SEPTEMBER 2018  
M S S R K J S
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30
- Klik pada tanggal yang terdapat event

STATISTIK PENGUNJUNG

Hari ini 30
Minggu ini 30
Bulan ini 2545
Total Pengunjung 34413
Pengunjung Online 6

BANTUAN ONLINE

MUJIYANTO, M.Pd.
SRI MULYANI, A.Md.

OFFICIAL TWITTER

Palembang - Selasa, 01 Mei 2018

Hati-hati Menghukum Anak - Dra. Hj. Sridia EP

Dibaca : 1 Pengunjung

“Saya mau pindahkan saja, Pak!”Tiba-tiba salah seorang orang tua siswa datang ke rumah saya dengan nada emosi yang tak terelakan.

***

Anaknya berbeda dengan kebanyakan. Ia anak special, agak lambat untuk menangkap materi. Ketika anaknya duduk di kelas II, orang tuanya sengaja meminta kepada pihak sekolah supaya tidak dinaikkan. Tahun ajaran baru, si anak dinaikkan ke kelas III meskipun agak dipaksakan. Sudah dipastikan guru kelasnya pun berganti.

Guru kelasnya belum memahami benar kondisi anak ini yang sangat lambat memahami sesuatu. Juga belum paham bagaimana selayaknya memperlakukan seperti anak special satu ini. Guru kelas memperlakukan kemampuan anak di kelasnya sama.

Setelah saya menanyakan permasalahannya. Ternyata anaknya dicubit berbekas oleh guru kelasnya. Ini serius, menurut saya. Harus dilaporkan kepada kepala sekolah untuk menegur guru bersangkutan. Saya mencoba mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak.

Hukuman pada anak sah-sah saja selama tidak mencederai atau menimbulkan bekas fisik. Tentunya dengan tujuan supaya anak menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya, psikis anak rusak gara-gara tindakan yang seharusnya tak perlu dilakukan oleh guru.

Dengan alasan mendidik, serta merta guru dengan sebebasnya menghukum tanpa dipikirkan bagaimana perkembangan anak ke depan.

Menghukum dengan Hati

Adakah menghukum anak dengan hati? Menurut pandangan saya jelas ada. Tentunya dengan hati yang bersih. Saya sering mendengar kisah bagaimana didikan orang tua pendahulu. Yang dengan tegas mereka menggembleng muridnya, bahkan dengan ‘memukul’ sekalipun. Tapi, mereka melakukannya dengan hati. Ikhlas. Tidak dikotori dengan hawa nafsu karena amarah. Bukan pula kesal karena ilmunya tidak bisa cepat diserap para murid.

Mereka guru ikhlas menghukum dengan hati, maka tidak mengherankan bila murid tank menyimpan rasa dendam pada sang guru. Pola seperti ini kurang cocok lagi diterapkan di era seperti ini yang sudah sangat berbeda. Apalagi undang-undang perlindungan anak semakin diperketat.

Lakukan Pendekatan

Menjadi vital bagi seorang guru melakukan pendekatan kepada murid. Pendekatan secara emosional maupun spiritual. Sudah barang tentu ketika emosional antara guru dan murid erat, harapan memiliki murid yang lebih baik akan cepat tercapai. Dibantu dengan pendekatan spiritual, selalu menyisipkan doa untuk anak didikny


Dibaca : 1 Pengunjung

Artikel Lainnya

Apycom jQuery Menus